THE TIME KEEPER (SANG PENJAGA WAKTU)

IMG-20130330-00755

Judul: The Time Keeper – Sang Penjaga Waktu

Pengarang: Mitch Albom

Alih Bahasa: Tanti Lesmana

Penerbit: GPU

Bahasa: Indonesia

Tebal: 312 halaman

Sinopsis:

Dari penulis yang telah menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia dengan buku-bukunya, Tuesdays with Morrie dan The Five People You Meet in Heaven, kini hadir novel terbarunya, The Time Keeper—fabel tentang manusia pertama yang menghitung waktu di bumi. Orang yang kelak menjadi sang Penjaga Waktu.

Dialah pencipta jam pertama di dunia. Dia dihukum karena mencoba mengukur anugerah terbesar dari Tuhan, diasingkan ke dalam gua hingga berabad-abad dan dipaksa mendengarkan suara orang-orang yang minta diberi lebih banyak waktu. Lalu dia kembali ke dunia kita, dengan membawa jam pasir ajaib dan sebuah misi: menbus keslaahannya dengan mempertemukan dua manusia di bumi, untuk mengajarkan makna waktu pada mereka.

Review:

Dor, seorang lelaki dari masa lalu, merupakan orang pertama di bumi yang memiliki minat sangat besar terhadap penghitungan. Sepanjang hidupnya yang bisa dikerjakannya hanyalah menghitung apapun yang bisa dihitungnya, membuat angka-angka, menandai saat-saat penting dalam hidupnya menggunakan fenomena alam, melakukan pengukuran, dan sisanya melamun memikirkan semua hal itu. Bahkan setelah dia menikah dengan Alli dan memiliki tiga orang anak, Dor tidak berhenti melakukan segala percobaannya tentang ukuran. Hal itu membuat dirinya dicap sebagai orang yang aneh dan oleh orang tuanya selalu dibanding-bandingkan dengan sosok Nim, teman semasa kecilnya bertiga bersama Alli dulu yang sekarang telah sukses menjadi Raja. Sama sekali tidak mempedulikan hal itu, Dor tetap serius dengan percobaannya sendiri yang mula-mula hanya sebatas menghitung ini-itu, berlanjut dengan rasa penasaraannya untuk mengukur perjalanan matahari dengan tongkat kayu, lamanya kegelapan dengan tetes-tetes air dari mangkuk berlubang yang tertampung dalam mangkuk lain di bawahnya, hingga ukuran waktu yang lebih panjang yang dia tandai berdasarkan perubahan bentuk bulan.

Melihat pengetahuan Dor yang tidak biasa, Nim meminta Dor untuk membantunya membangun Menara Nim agar dia bisa naik ke langit dan mengalahkan dewa-dewa. Namun penolakan Dor membuatnya harus menjalani pengasingan ke tempat yang jauh bersama istrinya karena ancaman Nim yang akan membawa dirinya dengan paksa ke menara itu jika Dor masih tetap tinggal di sana. Hingga suatu saat Alli sekarat karena tertular penyakit mematikan, Dor nekat mendatangi Menara Nim dan memanjat hingga ke atas untuk menemui dewa-dewa di langit demi meminta agar waktu bisa dihentikan. Dimana dia berpikir dengan begitu maka penderitaan istrinya juga akan bisa dihentikan. Namun bukannya bertemu dengan dewa, dia justru masuk ke dalam tempat yang gelap, yang selanjutnya merupakan tempat dimana dirinya menjalani ‘hukuman’nya selama berabad-abad.

Diceritakan juga pada masa lain—masa sekarang—mengenai dua orang yang berbeda generasi dan memiliki permasalahan yang bertolak belakang tentang sisa waktu mereka. Sarah Lemon merupakan anak SMA yang tidak populer dan dijauhi teman-temannya karena gemuk dan terlalu jenius. Dia sendiri dengan sadarnya menarik diri dari pergaulan dan menjadi anak yang sangat tertutup tak terkecuali dengan Ibunya. Namun Ethan, seorang lelaki yang menjadi sukarelawan sama dengannya di tempat penampungan tunawisma, membuat Sarah mabuk kepayang hingga dia rela keluar dari zona perlindungan dirinya dan melakukan apapun untuk bisa menjadi pacar Ethan. Hingga suatu hari Ethan secara gamblang menolaknya mentah-mentah lalu menyebar-luaskan perilaku Sarah ini ke jejaring sosial, mengakibatkan Sarah menjadi sangat depresi karena malu dengan seluruh teman-temannya. Lalu akhirnya pada malam tahun baru dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya—menolak sisa waktu yang diberikan padanya.

Berbeda dengan Victor Delamonte, seorang pengusaha kaya raya berusia delapan puluhan yang dinobatkan sebagai orang terkaya keempat belas di dunia, dia divonis tidak lagi memiliki waku yang banyak karena kanker dan gagal ginjalnya. Victor yang terbiasa memenangkan persaingan apapun, kali ini tidak mau kalah begitu saja dengan penyakitnya. Untuk itu dia memilih untuk mengawetkan tubuhnya dan mencairkannya lagi beberapa ratus tahun lagi saat ilmu pengetahuan sudah maju sehingga penyakitnya bisa disembuhkan. Dia mencoba untuk meminta lebih banyak waktu dari porsi yang seharusnya.

Albom memaparkan tiga kisah hidup Dor, Sarah, dan Victor sepotong demi sepotong secara bergantian mulai dari awal hingga akhirnya mereka bertiga bertemu dalam dimensi dunia yang sekarang. Ini yang membuat saya ‘agak’ merasa tidak nyaman saat membacanya. Selain karena terasa dibawa melompat-lompat dari kisah Dor ke kisah Sarah ke kisah Victor lalu kembali lagi ke kisah Dor, dan begitu seterusnya, Albom juga terkesan terburu-buru dalam mendeskripsikan kisah mereka. Mungkin keseluruhan ceritanya akan menjadi lebih bagus jika saja Albom memperpanjang dan memperkaya deskripsinya beberapa halaman lebih banyak.

Bicara tentang Sarah, jujur saya merasa kesal dengan tokoh ini karena sikap tidak tahu malunya yang mengejar-ngejar Ethan sampai sebegitunya. Padahal Ethan sendiri sudah menjelaskan secara tidak langsung dengan sikap-sikap cueknya saat menanggapi Sarah, namun Sarah tetap saja berharap terlalu banyak pada lelaki itu. Apalagi saat Sarah terus-menerus mengirim sms atau menelepon Ethan padahal lelaki itu tidak pernah membalasnya, saya merasa sangat geregetan dengan tokoh Sarah ini. Kok kayak nggak tahu diri ya. Sampai ketika Ethan menulis di jejaring sosialnya bahwa Sarah mencoba mendekatinya dan mengakibatkan seluruh teman-teman mereka tahu hal ini, saya cuma bisa bereaksi: lha kamu sih… Okelah, mungkin dalam pepatah-pepatah picisan cinta bisa menghilangkan akal sehat orang, tapi dalam kasus Sarah ini yang jelas-jelas dari awal sudah mendapat penolakan secara halus dari si lelaki, seharusnya dia sadar diri dan bukannya malah gencar mengejar-ngejar Ethan. Untuk kisah Sarah ini, saya beri nilai plus untuk Albom karena berhasil mengubah emosi saya yang semula bosan dan datar menjadi bergeliat kesal.

Saya tidak begitu mempermasalahkan bagaimana Albom memaparkan deskripsi kilatnya tentang Victor, karena mungkin kisah seorang pria tua yang hampir mati tidak memerlukan banyak detail yang mengharuskan pembaca untuk hanyut ke dalam ceritanya. Tapi tetap saja, akan lebih bagus jika kisah Victor ini sekaligus kisah-kisah lainnya tidak disajikan seperti potongan-potongan gambar di film. Hello… this is a book. Dan untuk Dor, pendeskripsian dari Albom yang terlalu sederhana dan ‘secukupnya’, cukup bisa membawa saya untuk merasakan atmosfer dunia purba. Namun sebagai tokoh utama seharusnya Albom bisa menggerakkan Dor lebih baik lagi.

Pesan moral yang diusung buku ini memang ditujukan untuk mengena dengan permasalahan yang dimiliki oleh Sarah dan Victor. Bahwa jangan pernah mengakali porsi waktu yang telah diberikan untuk mereka, karena,

Tidak ada kata terlambat atau terlalu cepat.

Semuanya terjadi pada waktu yang telah ditetapkan.

Namun yang membuat saya melontarkan tanda tanya besar adalah mengapa Dor yang diceritakan sebagai penemu waktu justru di‘hukum’ karena disebut-sebut telah lancang mengukur nikmat Tuhan. Bukankah seharusnya Dor pantas mendapat rasa terima kasih yang tak terhingga karena telah menemukan cara untuk membagi siang dan malam menjadi menit-menit yang teratur. Bayangkan saja jika di masa sekarang tidak ada pengukur waktu, bagaimana kita bisa masuk sekolah, menghadiri pertemuan, dan melakukan segala hal tepat waktu. Pasti semuanya akan ricuh dan rumit. Mungkin jika tidak pernah ada pengukur waktu, hidup akan bisa berjalan lebih santai dan manusia-manusia tidak ada yang akan merasa telah kehilangan banyak waktu. Tapi bagaimana pun juga akan lebih baik jika hidup ini ‘terukur’, karena dengan mengetahui batas-batas waktu yang kita miliki setiap harinya kita akan jadi lebih bisa menggunakan waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya.

“Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita.”

“Mengapa?”

“Supaya setiap hari itu berharga.”

Lalu ada lagi pemikiran Dor yang menggelitik saya dan jujur membuat saya mau tidak mau berpikir sangat dalam tentang hal ini.

Bagaimana bisa dianggap adil kalau kematianmu sangat bergantung

pada zaman kau dilahirkan.

Dimana pada mulanya ilmu pengetahuan medis belum berupa apa-apa lalu berkembang sederhana hingga sekarang maju dengan sangat pesat dan canggih. Bagi kita yang hidup di masa sekarang dimana demam sudah bisa disembuhkan dengan sangat gampangnya hanya dengan mengonsumsi paracetamol, tapi bagaimana dengan orang-orang yang hidup berabad-abad lalu dimana orang-orang denga mudahnya meninggal karena penyakit yang belum ditemukan pengobatannya? Ini tentu merupakan dilema tersendiri jika kita renungkan baik-baik. Mengapa hidup mati seseorang ditentukan oleh level-level kemajuan ilmu pengetahuan?

Semuanya kembali lagi pada ketentuan Tuhan, rencana-rencanyaNya, dan bahwa semuanya terjadi pada waktu yang telah ditentukan. Dan apapun yang ditetapkan Tuhan tentu memiliki hikmah yang lebih besar untuk kedepannya. Sadar atau tidak, berbagai macam penyakit yang bermunculan di antara manusia sebenarnya sesuai dengan berkembanganya ilmu pengetahuan itu sendiri. Dan kalaupun sekarang masih ada beberapa penyakit berbahaya yang sulit disembuhkan, itu akan menjadi pelajar sendiri untuk paramedis dalam menemukan pengobatan yang manjur, bukan? Memangnya bagaimana bisa muncul berbagai obat-obatan dan terapi yang canggih jika pada awalnya tidak ada pemicu yang membuat semua itu tercipta—penyakit itu sendiri.

Sama seperti yang dialami Dor dan masalah pengukuran waktunya, bahwa saya pikir it’s oke kalau Dor yang semasa itu hanya bisa mengukur tanpa tahu makna dari ukuran itu sendiri. Tapi dimana ketidak-tahuannya tentang makna waktu tersebutlah yang justru menjadikannya di ‘hukum’ selama berabad-abad. Maunya apa sih, gitu kan? Lalu masalah tentang ‘hukuman’ yang diterima Dor ini akhirnya bisa saya temukan jawabannya di bab tujuh puluh delapan, bahwa sebenarnya Dor tidak benar-benar di‘hukum’.

Rating: 

2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s