THE FAULT IN OUR STARS

 IMG-20130118-00652 

Judul: The Fault in Our Stars

Pengarang: John Green

Penerbit: Dutton Books

Bahasa: English

Tebal: 318 halaman

Sinopsis:

(By Goodreads)

Diagnosed with Stage IV thyroid cancer at 13, Hazel was prepared to die until, at 14, a medical miracle shrunk the tumours in her lungs… for now.

Two years post-miracle, sixteen-year-old Hazel is post-everything else, too; post-high school, post-friends and post-normalcy. And even though she could live for a long time (whatever that means), Hazel lives tethered to an oxygen tank, the tumours tenuously kept at bay with a constant chemical assault.

Enter Augustus Waters. A match made at cancer kid support group, Augustus is gorgeous, in remission, and shockingly to her, interested in Hazel. Being with Augustus is both an unexpected destination and a long-needed journey, pushing Hazel to re-examine how sickness and health, life and death, will define her and the legacy that everyone leaves behind.

Review:

Cerita dimulai ketika Hazel Grace, pengidap kanker tiroid stadium IV dengan metastasis ke paru-paru, dipaksa Ibunya untuk mengikuti pertemuan sebuah Support Group bagi anak-anak pengidap kanker agar terhindar dari kemungkinan depresi akibat penyakitnya (atau dalam kasus Hazel yang sudah benar-benar ‘paham’ dan ‘menerima’ akan kondisi serta apa-apa yang bakal terjadi besok dan besoknya, anak ini justru rentan depresi karena terlalu banyak tidak melakukan kegiatan apapun) sekaligus mencari teman. Dan di sanalah, di tempat pertemuan Support Group—sebuah basement gereja Episkopal—dia bertemu dengan Augustus Waters, mantan pengidap osteosarkoma dengan kaki kiri yang teramputasi. Dalam penilaian pertama Hazel, dia menggambarkan Augustus sebagai cowok dengan postur atletis yang sempurna. Yep, itu bisa menjadi lebih dari cukup alasan untuk membuat seorang cewek mengiyakan saat dia meminta untuk pergi bersamanya. Tapi jika dalam kurun waktu kurang dari setengah hari semenjak pertama kali melihatnya dan dengan gampangnya Hazel mau menerima ajakan terang-terangan Augustus untuk menonton film di rumahnya, erm… saya rasa saya kurang suka dengan bagian ini. Saya bahkan tidak bisa menemukan alasan kuat Hazel mengapa dia mau pergi begitu saja dengan orang yang tidak dikenalnya, ditambah dengan melihat kehidupan pribadinya yang friendless rasa-rasanya sulit bisa semudah itu memutuskan untuk pergi dengan orang asing. Green membuat saat-saat ‘perkenalan’ yang seharusnya menarik di awal buku menjadi super singkat dan terlihat dipaksakan (sedikit drama saya yakin akan membuat pembaca lebih menikmati ikatan-ikatan yang mulai dibentuk Hazel dan Gus, dan tidak dibuat melaju cepat seperti naik roller coaster).

Lalu inti perjalanan mereka diawali dengan saling menukarkan buku bacaan favorit mereka, dimana Augustus yang menjadi sangat tertarik dengan buku favorit milik Hazel—An Imperial Affliction (yang memiliki akhir cerita menggantung) bersikeras mendesak pengarangnya, Peter Van Houten, untuk menceritakan bagaimana kelanjutan dari kisah masing-masing tokoh di dalam cerita tersebut lewat email. Namun karena tak berhasil membuat pengarang buku itu memenuhi keinginannya, Gus akhirnya menggunakan Wish pre-Miracle-nya dari The Genie Foundation (semacam yayasan yang memberikan satu permohonan apapun bagi anak-anak pengidap penyakit serius) dan mengikutsertakan Hazel dalam kesempatannya itu untuk pergi ke Amsterdam menemui Peter Van Houten.

Dengan segala kesulitan yang harus mereka hadapi karena keterbatasan kesehatan mereka selama perjalanan, ternyata pertemuan dengan Van Houten tidak berjalan semenakjubkan seperti apa yang mereka inginkan. Tapi kekesalan mereka cukup tergantikan dengan ajakan asisten Van Houten untuk mengunjungi Rumah Anne Frank. Dan liburan mereka di Amsterdam ditutup dengan pengakuan Gus bahwa kankernya telah menyebar. Sungguh, momen ini bisa saja membuat perasaan haru saya meletup-letup kalau saja mereka berdua tidak mengakhiri konversasi penuh duka itu dengan:

“Would it be absolutely ludicrous to try make out?”

“There is no try, there is only do.” — pg 218

Errgh, these sick teenager and their hormones! Tsk.

Sejujurnya saya tidak terlalu menikmati gaya deskripsi John Green yang menurut saya terlalu singkat dan melompat-lompat (entahlah, sepertinya ekspektasi orang-orang yang memberikan rating sempurna untuk buku ini membuat saya berpikir buku ini benar-benar dalam level sempurna yang seperti ‘itu’, namun ternyata setelah menyelesaikannya saya rasa buku ini tidak sesempurna seperti yang mereka ungkapkan). Tapi memasuki bab empat belas di halaman 219, disini perasaan saya mulai luruh untuk bisa diaduk sedikit demi sedikit. Yup, saya menangis pada beberapa paragraf ‘dewa’ di antara bab tersebut hingga akhir. Namun tetap saja, bahkan di bagian akhir cerita saya masih saja dibuat kesal oleh John Green dengan bagian yang menurut saya terlalu biasa untuk dijadikan penutup cerita.

Rating:

3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s