Never Let Me Go (Jangan Lepaskan Aku)

IMG-20130813-00989

Judul: Never Let Me Go (Jangan Lepaskan Aku)

Pengarang: Kazuo Ishiguro

Alih Bahasa: Gita Yuliani K.

Penerbit: GPU

Bahasa: Indonesia

Tebal: 358 halaman

Sinopsis:

Dari luar, Hailsham tampak seperti sekolah asrama Inggris yang menyenangkan, juah dari sentuhan kota besar. Murid-muridnya terpelihara dengan baik, diajari seni, olahraga, dan ilmu pengetahuan. Namun anehnya mereka sama sekali tidak dibiarkan berhubungan dengan dunia di luar asrama mereka.

Kathy, yang kini sudah dewasa, mengenang kembali masa-masanya di Hailsham. Ingatannya tentang persahabatannya dengan Ruth dan Tommy, teman masa kanak-kanaknya di asrama tersebut, membuka berbagai rahasia di balik dinding Hailsham. Di sanalah manusia dikloning agar bisa menyediakan organ-organ yang dibutuhkan oleh penduduk dunia luar yang sakit.

Review:

Persahabatan Kathy, Ruth, dan Tommy masing-masing dimulai saat mereka semua sama-sama menjalani kehidupan (atau praktisnya mereka menyebutnya bersekolah) di dalam sebuah institusi besar bernama Hailsham di Inggris. Semasa kecil Tommy tidak punya seorang pun teman karena dia tidak punya satu karya pun yang bagus ditambah perangai buruknya yang mudah sekali tersulut amarah. Dan karena sifat pemarah Tommy yang tidak bisa terkontrol ini teman-temannya (tidak hanya anak laki-laki saja tapi juga perempuan) justru suka menggoda dan menjahilinya hingga marah dan semua orang akan menertawakannya setelah itu. Hanya Kathy saja yang berani mendekati Tommy dan memberi teguran yang benar pada bocah lelaki itu. Tommy yang merasa diperlakukan seperti seorang teman oleh Kathy, membalas gadis itu dengan bersikap sebaik mungkin, hingga akhirnya mereka berdua sering berbicara dan berteman.

Lain halnya dengan Kathy dan Ruth yang memulai persahabatan mereka dengan sebuah klub ‘pengawal rahasia’ milik Ruth yang dibentuk untuk melindungi Miss Geraldine. Hubungan Kathy dan Ruth pada awalnya berjalan tidak begitu baik karena sikap Ruth yang keras kepala dan cenderung bossy. Bisa dibilang hubungan dua sahabat ini selalu mengalami pasang surut, tapi yang menarik tiap kali selalu berakhir baik-baik saja seolah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.

Di Hailsham sendiri, siswa-siswa ini diajarkan untuk mempelajari segala hal seperti siswa-siswa di sekolah pada umumnya. Hanya saja di sini pelajaran yang mereka terima sebagian besar lebih mengenai seni. Betapa penting dan besarnya peran kesenian yang ingin ditekankan oleh institusi untuk siswa-siswa Hailsham ini ditunjukkan dengan diadakannya Exchange dan pemilihan hasil karya seni (lukisan, sketsa, puisi, esai, tembikar) para siswa untuk galeri Madame.

Setelah lulus dari Hailsham, mereka dibagi untuk pergi ke tempat-tempat yang terpisah selama menunggu datangnya panggilan pelatihan untuk menjadi perawat. Kathy, Ruth, Tommy, dan beberapa siswa dari kelompok mereka saat di Hailsham mendapat tempat di Cottage. Disana mereka juga tinggal dengan siswa dari institusi lain.

Kehidupan siswa-siswa di sekolah asrama ini dapat dikatakan sangat terjamin kualitasnya, mereka terpelihara dengan baik. Entah dari segi kebutuhan material maupun kebahagiaan dan kesenangan yang mereka dapatkan. Karena itu pesona Hailsham diantara para siswa yang sudah lulus dari sana benar-benar meninggalkan kesan yang sangat disayangkan jika terlupakan begitu saja (mulai dari tempatnya, kegiatan yang mereka lakukan, teman-teman, dan guardians).

“Pada masa-masa awal, sesudah perang, hanya itu makna kalian bagi kebanyakan orang. Benda sama-samar dalam tabung uji coba.” (p.326)

Termasuk bagi para donor yang setelah sekian lama meninggalkan tempat itu, Hailsham yang menyenangkan selalu lekat di ingatan mereka, terlebih jika mereka bertemu dengan sesama teman lama dari Hailsham maka mengenang tempat itu dan isinya menjadi topik pembicaraan yang tidak akan pernah membosankan. Begitulah Hailsham dimata makhluk-makhluk ini, pun tak terkecuali bagi siswa lain dari sekolah serupa.

Perlu diketahui bahwa Ruth dan Tommy sudah menjalin hubungan sejak mereka masih di Hailsham dan berlanjut sampai saat mereka tinggal di Cottage. Sedangkan Kathy sendiri terjebak dalam kebingungannya mengenai jati dirinya dan juga hubungan dengan orang-orang di Cottage. Kathy keluar dari Cottage lebih dulu daripada Ruth dan Tommy untuk menjalani pelatihan sebagai perawat.

Sebelum menjalani donasi pertama mereka, siswa ini diharuskan untuk menjadi perawat terlebih dahulu bagi donor-donor lain yang sudah lebih dahulu. Lama jangka waktu mereka menjadi perawat tidak selalu sama, ada yang baru sebentar namun sudah mendapat panggilan untuk donasi tapi juga ada yang hingga bertahun-tahun seperti Kathy (terhitung sebelas tahun sebelum donasi pertamanya akan dimulai).

Dengan menggunakan ingatan Kathy sebagai sudut pandang dalam cerita ini, Ishiguro benar-benar berhasil membuat kisah ini seolah hidup dan turut menyeret saya masuk diantara Kathy, Ruth, Tommy, seluruh siswa Hailsham, dan para guardian. Juga tak terkecuali bagaimana rasanya saya bisa merasakan atmosfer tempat-tempat di dalam buku dan mencium segarnya aroma pedesaan atau pesisir Norfolk yang kering dan dingin, hingga panti-panti pemulihan yang tak lepas dari bau obat.

Kathy yang saat itu masih menjadi perawat, dan telah memiliki keistimewaan untuk bebas memilih donor karena keberhasilannya, menggunakan kesempatan tersebut untuk memilih merawat Ruth dan Tommy. Pertama kalinya mereka bertiga pergi bersama lagi dan mengobrol seperti dulu, hal itu berakhir dengan agak tidak menyenangkan. Ruth melontarkan pengakuan dan penyesalan karena selama ini telah sengaja memisahkan Tommy dari Kathy. Berniat ingin menebus semuanya, Ruth mendesak Tommy dan Kathy untuk mengajukan penangguhan itu dan meyakinkan mereka bahwa semuanya belum terlambat dengan memberikan alamat rumah Madame.

“Katanya benda-benda seperti gambar, puisi, segala sesuatu seperti itu, katanya itulah yang menunjukkan isi hatimu. Katanya itu mengungkapkan jiwamu.” (p.221)

“Kami mengambil karya kalian karena kami pikir itu akan mengungkapkan jiwa kalian. Atau lebih halusnya, kami melakukannya untuk membuktikan kalian memiliki jiwa.” (p.324)

Guna sebenarnya dari galeri yang sering disebut-sebut selama mereka di Hailsham itu terungkap setelah Kathy dan Tommy akhirnya mencoba peruntungan penangguhan mereka dengan berkunjung ke kediaman Madame. Disana mereka tidak hanya bertemu dengan Madame melainkan juga Miss Emily (guardian kepala di Hailsham) yang akhirnya karena keputus-asaannya dengan keadaan Hailsham dan juga rasa kasihan dengan pola pikir polos milik Tommy, wanita tua itu membeberkan bahwa seluruh hasil karya mereka yang dulu masuk ke galeri tidak lain hanyalah sebagai alat pembuktian kepada para sponsor bahwa apa yang mereka lakukan pada para siswa ini berhasil, dan Hailsham akan mendapat dana yang cukup untuk menghidupi siswanya.

“Kami menunjukkan kepada dunia bahwa bila siswa-siswa dibesarkan dalam lingkungan manusiawi, dan berbudaya, mereka bisa tumbuh menjadi sama sensitif dan cerdasnya seperti manusia biasa.” (p.326)

Semenjak masih di Hailsham, para siswa sendiri sebenarnya sudah tahu apa mereka, kemana saja mereka harus pergi setelah dari Hailsham, dan bagaimana peraturan hidup yang akan mereka jalani. Mereka diberi tahu sedemikian rupa hingga membentuk pola pikir mereka yang menjadi semacam bahwa ‘Tidak apa jika mereka adalah hasil kloningan dan harus menjadi donor setelahnya, lalu memangnya kenapa?’

“Aku hanya menunggu sebentar, lalu kembali ke mobil, untuk pergi kemana pun aku seharusnya pergi.” (p.358)

Mau tidak mau saya menghela napas berkali-kali. Ishiguro berhasil menguraikan potongan-potongan cerita tanpa harus membuat saya terganggu dengan embel-embel kengerian akan satu barikade produk klon. Karena sepanjang mengikuti kisah ini sejujurnya saya hanya hanyut pada problema kehidupan ‘manusia normal’ yang dialami makhluk-makhluk ini. Meskipun pada akhirnya segala permasalahan senormal mungkin yang mereka alami selalu berujung dan terikat dengan takdir mutlak mereka sebagai klon.

Alasan lain mengapa saya sangat menyukai buku ini tidak lebih karena Ishiguro banyak menggunakan istilah yang terasa ‘memanusiakan’. Seperti Hailsham yang menyebut makhluk-makhluk ini sebagai siswa, dan penggunaan kata selesai untuk donor yang sudah meninggal. Jauh dari pusaran mengerikan yang sebenarnya ada di balik cerita kehidupan makhluk-makhluk berhati sederhana ini.

Rating: 5/5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s