Milana

IMG-20130910-01005

Judul: Milana: Perempuan yang Menunggu Senja

Pengarang: Bernard Batubara

Penerbit: GPU

Bahasa: Indonesia

Tebal: 192 halaman

Sinopsis:

Kali ini saya sudah tahu namanya, Milana. Ia bercerita mengapa ia melukis senja. Dan mengapa ia selalu melakukannya di atas feri yang menyeberangi Selat Bali, dari Banyuwangi ke Jembrana. Ia sedang menunggu kekasihnya. Ia yakin suatu saat kekasihnya akan datang ke tempat ia menunggu. Ia tidak tahu kapan. Ia berkata kepada saya bahwa ia bukan saja yakin, tapi ia tahu, kekasihnya itu akan datang kepadanya.

Namun, belakangan saya baru sadar, Milana sedang menunggu seseorang yang tiada.

Review:

Buku ini memuat lima belas cerita pendek yang ditulis oleh Bara. Seperti biasa, disini Bara datang lewat tulisan-tulisannya yang khas, gaya berceritanya yang mendayu, dan pemaparan yang (kita semua wanita tahu) ‘merayu’, uhm well…

Karena ini kumpulan cerita pendek, saya hanya akan mengulas sebuah cerita yang saya pikir paling menarik untuk saya; Beberapa Adegan yang Tersembunyi di Pagi Hari.

Kisah ini menceritakan tentang kisah cinta yang terjadi pada penghuni semesta. Benar, penghuni-penghuni semesta. Ratusan elemen kompleks yang hidup—tapi tidak terlalu diperhatikan oleh kebanyakan dari kita sehingga dianggap sebagai sesuatu yang mati, yang dimana oleh Bara masing-masing disulap untuk menghasilkan tautan kisah cinta yang manis dan unik.

Ini mengenai daun yang mencintai matahari karena hangatnya. Namun dia cemburu, karena matahari tidak mencintainya. Matahari mencintai apa yang juga ada di langit sepertinya, sang bulan. Kemudian embun datang, meneteskan kesejukan pada daun yang terbakar cemburu. Tapi lagi-lagi, daun dikecewakan. Embun yang dicintainya dan mencintainya, mati—selaras dengan kodratnya yang diciptakan hanya untuk sementara. Dan daun berlarut-larut terpuruk dalam kepedihannya pada embun.

Juga mengenai pagi yang terlalu tua untuk harus menyaksikan kisah-kisah cinta picisan tanpa memiliki pilihan untuk tidak melihatnya. Pagi yang tua, dan putus asa. Pagi yang menunggu kekasihnya, sang senja, yang dibawa pergi oleh malam.

Dan mengenai angin yang terbang membawa kabar. Angin yang ceria dan suka bersenang-senang.

Pada halaman-halaman awal, saya menganggap ini hanyalah dongeng. Tapi setelah melewati akhir cerita, saya sempat berpikir bahwa ini semua pasti hanya pengandaian—Bara ingin mengisahkan cerita-cerita sederhana mengenai manusia namun lewat obyek lain. Sehingga dia memetaforakan sifat para manusia dan hubungan mereka masing-masing tersebut kepada tokoh-tokoh yang ada di sini. Tapi juga, mungkin saya kurang benar. Mungkin, tanpa kita tahu, di luar sana tokoh-tokoh ini benar-benar melakukan seperti apa yang ada di kisah ini.

Mungkin saja. Dan jika itu benar terjadi, maka kita sebagai manusia (yang mampu mengolah pemikiran dan perasaan dengan lebih sempurna) seharusnya bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga dari kerendahan hati dan ketulusan murni yang diajarkan oleh para tokoh minor dunia itu. Salah satu moral lesson yang menyentil kesadaran. Daun saja bisa mencintai satu makhluk hingga seperti itu, Pagi saja bisa menggantungkan kesetiaannya hingga seperti itu, masa manusia tidak? Hayo…

Seperti juga di dalam akhir cerita yang merupakan penggalan kalimat dari sang angin mengenai daun dan pagi, “Memangnya cinta hanya bisa untuk satu? Memangnya cinta harus selalu menanti?”

Walaupun mau tak mau memang membuat saya ikut bertanya juga, tapi di kisah ini sepertinya si angin digambarkan sebagai komplimen dari orang lain yang memiliki prinsip bertolak belakang, atau bisa juga sebuah keraguan yang tak dipungkiri dapat muncul sewaktu-waktu dari si tokoh yang setia, atau justru bisa merupakan gambaran sifat dari manusia-manusia yang sulit untuk setia.

Cerita pendek ini merupakan pengembangan dari puisi dengan judul Beberapa Kalimat yang Tersembunyi di Pagi Hari. Pernah dimuat di koran harian Tempo pada tahun 2010. Tapi jika ingin membacanya bisa mampir ke blog milik Bara, puisi tersebut pernah di publikasikan di sana.

Rating: 3,5/5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s