Notasi

IMG_1454

Judul: Notasi

Pengarang: Morra Quatro

Penerbit: GagasMedia

Bahasa: Indonesia

Tebal: 294 halaman

Sinopsis:

Rasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung. Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.

Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.

Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi. Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap. Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya. Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu….

Review:

Selama ini, saya pribadi memang belum pernah mencoba untuk tertarik mencicipi hasil karya Morra Quatro. Tapi dengan rating yang lumayan  tinggi dan rasa penasaran atas komentar-komentar pembaca lain yang mengatakan bahwa di buku ketiganya ini peristiwa ’98 silam benar-benar terasa sekali, akhirnya saya tergerak untuk membeli buku ini. Dan tak mengelak, rasa penasaran saya terpuaskan dengan baik tanpa harus lebih dulu sampai di lembar akhir. Ya, Morra Quatro telah berhasil mengangkat atmosfer pemberontakan, kelicikan, ketakutan, penindasan, hati nurani, dan berbagai aroma kerasnya kehidupan di jaman itu. Sebuah latar belakang yang apik untuk sebuah kisah cinta sederhana yang tak usai dan kehidupan para mahasiswa yang begitu khasnya.

Kisah dimulai dengan kunjungan Nalia ke Fakultas Teknik Elektro dengan maksud akan memakai jasa publikasi radio mereka untuk sebuah kegiatan festival karya tulis ilmiah milik BEM Kedokteran Gigi. Tapi gagal hanya dikarenakan kenaikan harga iklan (yang terasa ‘disengaja’), budget untuk publikasi tidak mencukupi untuk harga yang baru, dan alasan-alasan yang tak lepas dari kuatnya intrik persaingan calon-calon presiden BEM universitas yang melibatkan mereka semua (para pengurus BEM fakultas).

Karena ditolak, anak-anak BEMKG sekaligus panitia acara ini beralih untuk mencoba mendatangi D3 Teknik Elektro yang juga mempunyai radio (meski sebenarnya belum memiliki ijin siar juga). Kunjungan malam hari ke kampus D3 Elektro inilah yang membawa ketiga kubu calon-calon presiden BEM universitas itu bertemu dan terlibat insiden. Pelaksanaan festival ditunda, seluruh panitia dipanggil oleh Dekan, tapi malam itulah saat pertama kali Nalia berinteraksi dengan Nino—anak lelaki dari Teknik yang selalu terlihat tenang, berkacamata minus, dan disenangi para dosen. Saat pelaksanaan festival kembali direncanakan, strategi yang bisa digunakan hanyalah publikasi cetak. Semuanya mendapat bagian untuk menyebarkan poster dan surat-surat undangan ke masing-masing BEM di seantero fakultas di UGM. Dan Nalia, salah satunya mendapat fakultas Teknik Elektro sebagai tujuan suratnya, dan disinilah kembali terjadi pertemuan itu—pertemuannya dengan Nino yang menyenangkan.

“Seantero negeri sedang dilanda kesusahan ekonomi sehingga membuat semua orang tertekan dan cenderung lebih mudah marah. Tapi aku dan Nino terlempar dalam situasi-situasi yang justru membuat kami saling membagi tawa.” (p.83)

Radio Jawara milik Teknik Elektro ditutup akibat masalah ijin siar, pemberontakan lewat media tercetus di beberapa tempat, serangan-serangan anggota militer berlangsung, demonstrasi meledak di seluruh penjuru kota di Indonesia, penculikan-penculikan menebar teror dimana-mana, penembakan… dan pembunuhan.

Tepat setelah demontrasi yang berlangsung di UGM hari itu, Nalia kehilangan Nino. Kabarnya, aparat bersenjata mencari lelaki itu. Kabarnya, orang-orang suruhan ayahnya membawanya kembali ke Jakarta tak setelah aparat-aparat itu pergi. Kabarnya, Nino kabur dari rumah dan ikut demonstrasi dengan teman-teman di Jakarta—yang datang lewat surat tanpa sampul dan tanpa alamat. Beberapa surat dari Nino sampai ke tangan Nalia, hingga kabar terakhir yang menyiratkan bahwa ada kemungkinan keluarganya akan membawanya ke Autralia. Dan setelah itu, surat-surat Nino berhenti datang.

Negeri mulai memulihkan diri, beberapa mahasiswa yang kehilangan nyawa terabadikan namanya, beberapa mahasiswa yang hilang tetap tak kembali. Begitu pula Nino—tak ada yang tahu dimana dia berada saat itu.

Kisah yang memikat—sangat memikat.

Sebagai tambahan yang membuat buku ini luar biasa adalah kelihaian Morra Quatro dalam menggambarkan seluruh lokasi di area kampus UGM dengan sangat detil. Dan begitulah, saya jatuh cinta dengan gaya penulisan Morra, saya jatuh cinta dengan kisah di buku ini.

Rating: 4/5

Advertisements

2 thoughts on “Notasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s