Tarian Hujan – Dancing Rain

dancing-rain

Judul: Tarian Hujan – Dancing Rain

Pengarang: Jane Ardaneshwari

Penerbit: GPU

Bahasa: Indonesia – Inggris

Tebal: 184 halaman

Review:

Katakan lah sebuah spontanitas—yang mendorong tangan saya untuk meloloskan buku ini dari himpitan buku-buku lain di rak sebuah toko buku lokal. Dan bukan akibat tendensi apa pun, selain karena mata saya menangkap sebuah payung berwarna merah yang terlalu menyolok untuk diabaikan. Benar, payung—yang mau tidak mau berkaitan erat dengan hujan (atau terik, bagi sedikit orang yang mencari-cari kaitan menarik antara payung dan terik ketimbang payung dan hujan—saya contohnya), dan berwarna merah, dan menampung genang air, dan ternyata memang memiliki juluk hujan pada judulnya.

Dancing Rain. Tarian Hujan. Yang disebutkan merupakan sebuah kumpulan puisi, 101 buah puisi oleh Jane Ardaneshwari.

Seketika saya ragu (karena saat itu niatan saya adalah mencari bacaan yang ringan saja) dan setelah menimang-nimang beberapa detik lamanya hampir-hampir menyusrukkannya kembali ke dalam rak. Padahal saya suka puisi. Saya menikmati kalimat-kalimat dalam puisi-puisi. Padahal kebanyakan dari mereka lebih suka berlarian kesana-kemari seenak sendiri, kurang memahami pembaca (terutama si awam seperti saya) yang keringatan mengejar kemana benang merahnya, dan apa sebetulnya maknanya. Namun bukan kah seperti itu estetisnya sebuah puisi, sajak, prosa-prosa yang dengan elegan menjerat rasa-rasa penasaran yang haus lewat daya tariknya yang unik, misterius, dan terkadang menjebak. Padahal (lagi), saya juga menulis puisi—atas nama iseng belaka, dan lama-lama secara tidak langsung merupakan salah satu cara untuk memahami jalur berpikir para penyair-penyair mengenai apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka ingin katakan… hingga menghasilkan kalimat-kalimat yang seperti ini dan seperti itu? Selama saya bertanya-tanya akan pelbagai hal tersebut, saya berakhir berbalik memberondong pertanyaan pada diri saya sendiri saat saya membaca ulang apa-apa saja yang saya tulis. Lalu saya mengerti dengan sendirinya, mengapa banyak puisi di tangan profesional yang menampilkan kesan terbungkam sekaligus memberontak bebas namun samar-samar berjujur ria akan apa yang tengah itu sedang direnungi.

Alih-alih meneruskan keraguan saya, saya memasukkan buku ini ke keranjang belanja. Dengan percaya bahwa jaminan kumpulan puisi yang dicetak di bawah tangan penerbit mayor ini bukan lah puisi sembarangan, tanpa meributkan lagi payung-hujan serta kisah melodrama yang biasa bersembunyi dibaliknya, tanpa tahu siapa sosok Jane Ardaneshwari, dan tanpa adanya sinopsis atau sepenggal puisi atau sepetik kata petikan di kaver belakangnya.

tumblr_nc6yckgewi1sp3b4qo1_540
image source

Singkatnya, saya menyesal—kalau saja saya mengembalikan buku ini ke raknya dan tidak mengabaikan keudikan saya yang sama sekali tidak pernah mendengar siapa Jane itu. Karena puisi-puisi di dalam buku ini terasa seperti sesapan secangkir teh hangat di pagi gerimis sekaligus terdengar seperti remahan kukis yang dikudap tengah malam. Layaknya hal-hal yang kita jumpai setiap hari, tidak membekas dalam-dalam karena merupakan rutinitas, namun terikat kuat dan tidak terpungkiri kita tidak dapat terlepas darinya. Karena apabila sekali terlepas, hanya akan ada kekosongan dan kehampaan yang mengganggu. Seperti itu lah yang saya rasakan ketika menekuri baris demi baris puisi-puisi milik Jane Ardaneshwari ini. Memikat. Sangat memikat. Namun tidak terlewat menjadi posesif lalu menjadi candu.

Di bagian terakhir buku ini dikatakan bahwa Jane merupakan seorang wartawan, penulis, dan editor. Ia menulis sejak duduk di bangku empat SD, dan banyak sajaknya ternyata telah dimuat di beberapa surat kabar. Jane sempat hiatus selama kurang lebih empat dekade, lalu kembali menulis sajak lagi saat tahun 2014. Saat ini ia bekerja sebagai kepala pengembangan editorial di MRA Media yaitu grup penerbitan gaya hidup, dan juga tengah menyelesaikan studi doktoralnya di FIPB UI.

black-dark-dress-forest-favim-com-3318579

image source

Disini, saya tidak lebih daripada penikmat, yang hanya sebatas mampu berkata lezat namun masih terlalu bodoh untuk bisa menguraikan kelezatan seperti apa yang telah saya teguk. Saya terlampau jauh di bawah jempol kaki para pengkritik sastra yang dapat memberikan komentar dengan bijaksana. Maka dari itu saya hanya akan menampilkan beberapa penggal puisi yang masing-masing darinya memberikan saya kesan paling mengharu dan memikat.

Cogitatio

ada suatu masa yang jauh: di selasarnya

tertera nama kita, saat kenangan demi kenangan

ditoreh pada setiap lembar hari dan

bilangan waktu, hingga suatu hari kita

lelah kemudian terpuruk di titik nadir takdir,

tempat kita menikung tajam tanpa

tahu di mana akhir perjalanan

Innuendo

berkelana hingga ke negeri magribi, apa sebenarnya

yang kau cari?

lihatlah: sebongkah rasa akhirnya

hadir tanpa daya—tergeletak dalam benak,

menukik ke rongga dada, lesap nyaris tak

berjejak, berkejaran di antara

denyar nadi dan mungkin pula kelak

berimpitan larut di sela mimpimu

di penghujung hari

Intermezo Februari

seorang pecundang ditahbiskan hari ini:

gontai dikayuhnya langkah menuju

belantara beban: huniannya abadi

(dikaisnya nyali hari demi hari)

ditatapnya wajah asing

dalam cermin: serasa akrab namun

siapa tak pernah pasti

(berkali-kali dicecapnya maut sebelum mati)

Absolut

lenyap sudah riwayat tentangmu:

memudar di balik nalar

Sang Pecundang

ditampiknya gibran

disangkalnya rilke

dicibirnya rumi

dipujanya pantulan cermin

Yang paling saya sukai, karena meditasi disini yang tertangkap oleh saya adalah sebuah kejujuran bahwa tingkatan senyap yang paling tinggi adalah tempat pulang yang paling hakiki—lebih baik daripada riuh yang menebar kegilaan yang bodohnya di jaman sekarang justru menjadi salah satu dari kehidupan yang membuat ingin gantung diri, serta pula lebih baik dengan atau tanpa peduli bagaimana cara pencapaian senyap itu (bunuh diri, atau mati dibunuh—seleksi alam).

Meditasi

karena hidup adalah aliran waktu mahariuh,

senyap adalah rumah sejati kita

pulang yang paling hakiki di akhir hari

Dan saya akhirnya tahu, bahwa Hujan Bulan Juni bukan lah sepenuhnya milik Sapardi Djoko Damono. Beliau memiliki Hujan Bulan Juni-nya, Jane Ardaneshwari juga memiliki Hujan Bulan Juni-nya sendiri.

Hujan Bulan Juni

kota ini pasrah terbungkam oleh

rinai hujan bulan juni: setiap tetesnya laksana

peluh para bidadari yang bergegas

mengepak sayap mereka menuju mentari

tak ada yang ganjil dari hujan bulan juni:

kita telah sedemikian terbiasa

menyambutnya datang selagi kemarau

diam-diam menyelinap pergi

Disertakan pula beberapa puisi yang pernah diterbitkan saat Jane masih berada di kelas 4 SD.

Ulang Tahun

kembali pula tahun-tahun mengulang

tak habis-habisnya seperti

ombak membentur karang,

dan hatipun terasa risau

karena,

umur kian merambat

kuucapkan selamat ulang tahun

padamu,

dan aku berjanji belajar rajin

Diposkan untuk: Read and Review Challenge 2017 – Poetry

Rating: 4,5/5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s