Paper Towns

18690890 (1)

Title: Paper Towns

Author: John Green

Publisher: Bloomsbury

Language: English

Pages: 307 pages

Sinopsis:

Quentin has always loved Margo Roth Spiegelman, for Margo (and her adventures) are the stuff of legend at their high school. So when she one day climbs through his window and summons him on an all-night road trip of revenge he cannot help but follow.

But the next day Margo doesn’t come to school and a week later she is still missing. Q soon learns that there are clues in her disappearance… and they are for him. But as he gets deeper into the mystery – culminating in another awesome road trip across America – he becomes less sure of who and what he is looking for.

Review:

“Margo always loved mysteries. And in everything that came afterward, I could never stop thinking that maybe she loved mysteries so much that she became one.” (p.16)

Quentin ‘Q ‘ Jacobsen loved Margo Roth Spiegelman since that girl moved into his neighbour. Margo has the all of unique characteristic Quentin fall for her. He thinks that Margo is an amazing girl because she was different in any case as compared with the other girls. She’s stunning, eccentric, and has unexpected different way of thinking. These things became the reason why Quentin has a great interest towards Margo. For Quentin , Margo is an complicated adventure with puzzles that he could never guess before. They both became good friends when they were child . But the thing’s slowly changing as they growing older. Margo became a popular girl. While the nerd Quentin felt himself getting too far away to be able to reach Margo.

“That’s always seemed so ridiculous to me, that people want to be around someone because they’re pretty. It’s like picking your breakfast cereals based on color instead of taste.” (p.42)

Continue reading

Notasi

IMG_1454

Judul: Notasi

Pengarang: Morra Quatro

Penerbit: GagasMedia

Bahasa: Indonesia

Tebal: 294 halaman

Sinopsis:

Rasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung. Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.

Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.

Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi. Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap. Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya. Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu….

Review:

Selama ini, saya pribadi memang belum pernah mencoba untuk tertarik mencicipi hasil karya Morra Quatro. Tapi dengan rating yang lumayan  tinggi dan rasa penasaran atas komentar-komentar pembaca lain yang mengatakan bahwa di buku ketiganya ini peristiwa ’98 silam benar-benar terasa sekali, akhirnya saya tergerak untuk membeli buku ini. Dan tak mengelak, rasa penasaran saya terpuaskan dengan baik tanpa harus lebih dulu sampai di lembar akhir. Ya, Morra Quatro telah berhasil mengangkat atmosfer pemberontakan, kelicikan, ketakutan, penindasan, hati nurani, dan berbagai aroma kerasnya kehidupan di jaman itu. Sebuah latar belakang yang apik untuk sebuah kisah cinta sederhana yang tak usai dan kehidupan para mahasiswa yang begitu khasnya.

Kisah dimulai dengan kunjungan Nalia ke Fakultas Teknik Elektro dengan maksud akan memakai jasa publikasi radio mereka untuk sebuah kegiatan festival karya tulis ilmiah milik BEM Kedokteran Gigi. Continue reading

Milana

IMG-20130910-01005

Judul: Milana: Perempuan yang Menunggu Senja

Pengarang: Bernard Batubara

Penerbit: GPU

Bahasa: Indonesia

Tebal: 192 halaman

Sinopsis:

Kali ini saya sudah tahu namanya, Milana. Ia bercerita mengapa ia melukis senja. Dan mengapa ia selalu melakukannya di atas feri yang menyeberangi Selat Bali, dari Banyuwangi ke Jembrana. Ia sedang menunggu kekasihnya. Ia yakin suatu saat kekasihnya akan datang ke tempat ia menunggu. Ia tidak tahu kapan. Ia berkata kepada saya bahwa ia bukan saja yakin, tapi ia tahu, kekasihnya itu akan datang kepadanya.

Namun, belakangan saya baru sadar, Milana sedang menunggu seseorang yang tiada.

Review:

Buku ini memuat lima belas cerita pendek yang ditulis oleh Bara. Seperti biasa, disini Bara datang lewat tulisan-tulisannya yang khas, gaya berceritanya yang mendayu, dan pemaparan yang (kita semua wanita tahu) ‘merayu’, uhm well…

Karena ini kumpulan cerita pendek, saya hanya akan mengulas sebuah cerita yang saya pikir paling menarik untuk saya; Beberapa Adegan yang Tersembunyi di Pagi Hari.

Kisah ini menceritakan tentang kisah cinta yang terjadi pada penghuni semesta. Benar, penghuni-penghuni semesta. Ratusan elemen kompleks yang hidup—tapi tidak terlalu diperhatikan oleh kebanyakan dari kita sehingga dianggap sebagai sesuatu yang mati, yang dimana oleh Bara masing-masing disulap untuk menghasilkan tautan kisah cinta yang manis dan unik.

Ini mengenai daun yang mencintai matahari karena hangatnya. Continue reading